Budaya Keselamatan RS AR Bunda Assalaam Lahat

Operasional Rumah Sakit AR Bunda Assalaam Lahat Menerapkan Budaya Keselamatan


Budaya keselamatan di rumah sakit menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif, di mana staf klinis saling menghargai, melibatkan, dan memberdayakan pasien serta keluarga. Pimpinan mendorong kerja sama tim yang efektif serta kolaborasi interprofesional dengan fokus utama pada keselamatan pasien.

Budaya ini terbentuk dari nilai, sikap, persepsi, kompetensi, dan perilaku individu maupun kelompok yang menunjukkan komitmen dan kemampuan dalam menjaga mutu pelayanan serta keselamatan. Komunikasi yang dilandasi rasa saling percaya dan pemahaman bersama mengenai pentingnya keselamatan menjadi ciri utama.

Selain itu, tim senantiasa belajar dari Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) maupun Kejadian Nyaris Cedera (KNC). Staf klinis menyadari keterbatasan manusia dalam sistem yang kompleks, sehingga briefing, pembelajaran, dan perbaikan berkelanjutan menjadi bagian penting dari budaya keselamatan.


Perilaku yang Tidak Mendukung Budaya Keselamatan


  1. Perilaku Tidak Layak (Inappropriate Behavior)
  2. Tindakan yang menggunakan kata-kata atau bahasa tubuh yang merendahkan, menyinggung, atau melecehkan sesama staf.

    Contoh:

    • Mengumpat
    • Memaki
    • Menunjukkan ekspresi tubuh yang meremehkan
  3. Perilaku Mengganggu (Disruptive Behavior)
  4. Perilaku tidak layak yang dilakukan secara berulang, baik verbal maupun nonverbal, yang dapat membahayakan, mengintimidasi, atau merusak suasana kerja. Termasuk di dalamnya “celetukan maut”, yaitu komentar sembrono di depan pasien yang berpotensi menurunkan kredibilitas staf klinis lain.

    Contoh:

    • Memberikan komentar negatif terhadap tindakan atau pengobatan staf lain di depan pasien (misalnya: “Obatnya ini salah, lulusan mana dia?”).
    • Melarang perawat membuat laporan terkait Kejadian Tidak Diharapkan (KTD).
    • Memarahi staf klinis di hadapan pasien.
    • Menunjukkan kemarahan dengan melempar alat bedah di ruang operasi.
    • Membuang atau memperlakukan rekam medis secara tidak semestinya di ruang rawat.
  5. Perilaku Melecehkan (Harassment)
  6. Segala bentuk pelecehan yang berkaitan dengan ras, agama, suku, maupun gender.

  7. Pelecehan Seksual (Sexual Harassment)
  8. Tindakan verbal, nonverbal, atau fisik yang bersifat seksual dan tidak diinginkan, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman, mengintimidasi, atau merendahkan martabat individu.


Hal-hal Penting menuju Budaya Keselamatan


  1. Staf RS mengetahui bahwa kegiatan operasional RS berisiko tinggi dan bertekad untuk melaksanakan tugas dengan konsisten serta aman.
  2. Regulasi serta lingkungan kerja mendorong staf tidak takut mendapat hukuman bila membuat laporan tentang KTD dan KNC.
  3. Direktur RS mendorong tim keselamatan pasien melaporkan insiden keselamatan pasien ke tingkat nasional sesuai dengan peraturan perundangan.
  4. Mendorong kolaborasi antar staf klinis dengan pimpinan untuk mencari penyelesaian masalah keselamatan pasien.
    • Komitmen organisasi menyediakan sumber daya, seperti staf, pelatihan, metode pelaporan yang aman, dan sebagainya untuk menangani masalah keselamatan.
    • Masih banyak RS yang memiliki budaya menyalahkan pihak tertentu. Just culture adalah model terkini yang membangun budaya terbuka, adil, pantas, serta mendorong budaya belajar.
    • Ada saat-saat individu tidak seharusnya disalahkan, misalnya ketika terjadi komunikasi yang buruk, keputusan harus cepat, atau keterbatasan faktor manusia dalam pelayanan. Namun, kesalahan akibat perilaku sembrono tetap perlu pertanggungjawaban.
    • Contoh perilaku sembrono mencakup tidak mengikuti kebersihan tangan, tidak melakukan time-out sebelum operasi, atau tidak memberi tanda pada lokasi pembedahan.
    • Budaya keselamatan mencakup upaya mengenali masalah sistem yang mengarah pada perilaku tidak aman, sekaligus tetap menjaga akuntabilitas.
    • Pertanggungjawaban membedakan antara kesalahan manusiawi (kekeliruan), perilaku berisiko (jalan pintas), dan perilaku sembrono (mengabaikan langkah keselamatan).
WhatsApp 1